Gubuk Kecilku
Awan-awan bergerak seperti sedang bermain
Angin berhembus seperti mengelitiki tubuh
Suara kicauan burung seraya nyanyian yang merdu
Udara pagi nan sejuk
Tetes demi tetes embun berjatuhan dari daun
Daun yang basah dengan wangi semerbak
Dan eloknya alam yang terpampang luas
Sungguh agung anugerah ini
Pagi itu, ku mulai awal baru dalam kehidupan ku
Ku bangun dan ku liat ada serorang wanita cantik berbaring di sampingku
Wajahnya begitu mempesona, hanya tatapan mesra dan sebuah ciuman yang dapat menyampaikan rasa itu padanya. Diapun terbangun dari tidurnya seperti seorang putri salju. Betapa damainya ku melihat keindahan dalam dirinya, Kemudian aku memeluknya dengan saling tersenyum.
Kami berdua berjalan menuju beranda gubukku nan kecil tapi bertaburan jutaan harapan dan impian disana. Kami berdiri sambil meresapi udara dingin yang perlahan mengelitiki tubuh. Ku genggam erat tangan halus dan lembut itu sambil kulepaskan sebuah senyuman padanya. Dia pun membalas senyumku dengan senyuman yang semakin membuatku hanyat akan pesonanya.
Tak banyak kata yang terucap dari ku dan dia. Di gubuk itu aku mulai menjalani kehidupan baruku. Aku hanya tinggal berdua dengan seorang wanita yang selalu ada untukku, istriku tercinta. Semangat baru telah ku dapatkan, hari-hari terasa begitu indah walaupun sejuta hamparan kerikil mengganggu jalanku. Tapi aku tak pernah goyah karena dia yang selalu mendampingiku.
Semakin hari semakin membuatku kuat untuk melangkah dalam hidup tak ada yang bisa membuatku goyah. Sampai pada suatu ketika setelah sekian lama kami bersama, harapan itu akan tiba. Rumah gubuk kecil akan berubah jadi istana karena akan kedatangan seseorang yang dianugerahkan untuk melengkapi kebahagiaan kami berdua. Istriku tengah menjalani kehamilannya satu bulan. Aku semakin gigih, bersemangat, dan begitu bahagia seakan-akan bertambah jutaan kali lipat.
Seiring berjalannya waktu yang terasa begitu cepat, kehamilan istriku sudah delapan bulan, semakin dekat waktuku bertemu dengan makhluk kecil, merah, suci, dan penghias gubuk kecilku.
Pada hari itu, istriku mulai merasakan sesuatu yang aneh, perutnya terasa sakit, air ketubanpun pecah dan menetes dikakinya. Aku panik, binggung, dan segeralah ku bawa istriku ke rumah sakit. Jarak rumah sakit dengan gubukku cukup jauh 45 km. ku tancap gas kendaraanku agar cepat sampai di rumah sakit. Walau merasakan sakit tetapi istriku tetap tenang dan tersenyum padaku.
Jarak yang jauh membuatku sampai di rumah sakit 30 menit. Istriku mulai pucat, dan langsung ku bawa dia menuju ruang gawat darurat. Dokterpun segera datang dan langsung melalukan tindakan, kondisinya semakin parah, istriku pingsan sambil menggenggam tanganku. Dokterpun menyarankan untuk segera dilakukan operasi, tanpa pikir panjang aku menyetujuinya agar istri dan anakku dapat selamat. Operasipun dilakukan, aku tetap berada disampingnya setia mendampingi, walaupun dengan rasa gelisah dan khawatir. Selang beberapa menit waktu, seorang bayi mungil perempuan keluar dan menangis. Betapa gembirannya aku kala melihat wajahnya dan mendengarkan tangisannya. Tetapi keadaan istriku semakin parah, dia tak kuat dan akupun bisa merasaan betapa beratnya berjuang saat itu. Tapi Tuhan berkehendak lain, saat anakku lahir, istriku meninggal, dia meninggalkan aku dari dunia. Aku terpukul, diam, dan mataku pun meneteskan air mata. Inilah cobaan terberat dalam hidupku. Aku tak kuasa menahan kesedihan yang begitu dalam, seakan akan aku seperti terjatuh setelah terbang tinggi. Bayi mungil itu terus menangis, ku gendong dia dengan penuh kasih sayang dan ku rebahkan dia disamping ibunya yang sudah tak bernapas lagi.
“Sungguh malang nasibmu putri kecilku, kau ditinggalkan ibumu saat kau dilahirkan. Takkan pernah ku sia-siakan engkau dan akan kurawat engkau dengan penuh kasih sayang seperti yang telah aku impikan besama ibumu. Kau pasti akan tumbuh menjadi gadis tegar anakku. Kini hanya engkau pelita hidupku, cahaya penerang gubuk kecil ini”.
-end-
15-09-2009
Mars
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar