Selasa, 01 September 2009

Episode di Malam Tak Berbintang

Episode di Malam Tak Berbintang

Ia memasuki kehidupanku seperti angin sepoi menggelitik pipi. Begitu membuaiku. Ia datang dengan membawa serta pesonanya yang tak dapat kutolak. Bahkan sebelum dimulainya episode di malam tak berbintang itu, aku tahu bahwa ia sosok yang istimewa. Ia lelaki yang menyenangkan. Ia selalu penuh perhatian dan hangat. Kedewasaan berfikirnya senantiasa membuat setiap orang merasa penting. Kemampuannya berbincang seolah membiusku dalam kekaguman tanpa tepi. Dan yang terpenting, ia selalu tersenyum! Namun ketika itu aku tak tahu bahwa takdir ternyata sedang mengajakku bercanda. Hingga satu episode di malam tak berbintang membuat diriku tak akan pernah sama lagi.
Sedari awal aku tahu jika ia dan keberadaannya hanya akan menjadi masa lalu. Masa depanku telah ditentukan. Masa depannya telah dipilih. Namun dorongan insting liar dalam diriku tak dapat kutipu. Aku jatuh, terperosok jauh pada sesuatu yang tak mungkin kugenggam.
Langit mendung, bulan redup. Aku menengadah.
“Kenapa nggak ada bintang ya?” tanyanya di suatu malam yang berkabut.
“Ini kan sedang mendung,” jawabku sambil menelisik ke dalam matanya yang bercahaya. “Tahu nggak kenapa langit warnanya biru?” tambahku.
Ia menggeleng
“Itu karena atmosfer kita berdebu. Debu memendarkan cahaya matahari. Makanya langit kita warnanya biru.”
“Kalau luar angkasa?”
“Di luar angkasa nggak ada atmosfer dan nggak ada debu. Jadi meski ada sinar matahari, warnanya nggak biru,”
“Oh, tadinya kupikir karena astronot motretnya malam hari,” ungkapnya sambil tertawa menebar- nebar.
Aku ikut tertawa bersamanya. Celetukannya selalu lucu. Tadinya aku menganggap dia sebagai adik kecilku. Tapi setelah sekian lama ternyata akulah yang harus belajar banyak tentang kedewasaan padanya. Ia mengajariku banyak hal. Tentang kehidupan, tentang optimisme, juga tentang cinta.
“Aku nggak nyangka kamu masih semester empat,” aku teringat akan perkataanku pada suatu sore di bukit bintang. Bukit kecil itu bukan bukit yang penuh bintang. Hanya saja kalau malam, bukit itu memendarkan ribuan lampu ke langit. Ribuan lampu dari rumah- rumah penduduk yang terlihat seperti bintang jika dipandang dari atas bukit.
“Emangnya kenapa? Apa ada pengaruhnya?” tanyanya sambil memandangiku yang terduduk layu di atas motornya. Angin bulan Juli yang dingin dan lembab menampar wajah kami.
“Nggak sih! Kalau dekat kamu, aku merasa akulah yang masih kecil,” ungkapku, mengingat rentang usianya yang empat tahun lebih muda dariku. Ia selalu membuatku merasa nyaman. Ia membuatku tak dapat berprasangka buruk tentang dirinya. Ia dan segala yang dipunyainya, menenggelamkanku.
“Usia kan nggak menjamin kedewasaan?” ujarnya sambil menerawang. Aku membenarkan ucapannya ketika itu.
Aku kembali menengadah memandangi malam yang tak berbintang. Dia meraih tanganku yang lembab dengan tangannya yang sejuk. Genggaman tangan kami longgar, dan kulihat cincin polos kecil melingkar di jari manisnya. Saat ia menyentuh tanganku, rasa dingin karena gugup menjalar ke seluruh tubuhku. Ketika ia menatap mataku, aku merasa sangat cantik. Kami saling memandang dalam sedetik yang singkat. Tanganku gemetar. Pastilah ia tahu aku gugup, karena ia tersenyum ketika aku mulai gemetar. Dan dalam beberapa detik yang singkat itu, tiba-tiba saja ia menyentuhkan bibirnya ke bibirku. Aku kaku… Segala sesuatunya menjadi kabur, kecuali dia. Yang terpikirkan saat itu hanyalah bahwa aku tidak sedang menginjak bumi. Nafasku memburu, seolah ribuan oksigen tak cukup untuk menyuplai paru-paruku yang bergetar hebat. Jantungku kekurangan darah. Otakku kekurangan akal sehat. Beberapa waktu kemudian, ia kembali mengulang saat yang sempurna itu.
Ketika akal sehatku kembali, dengan segera aku ingin menangis. Aku punya seseorang yang kunanti. Ia punya seseorang yang menantinya. Kami tidak saling memiliki. Kami terlibat hanya karena sama-sama tahu jika kami saling tertarik. Ia akan kembali pada kehidupannya yang sempurna, di luar pulauku. Dan aku kembali pada kehidupanku yang rumit, di dalam pulauku. Lamat- lamat aku seperti mendengar suara takdir menertawakanku.
Aku hanya tak sanggup melihatnya berlalu. Aku termasuk orang yang tak bisa menerima perpisahan di depan mata. Aku tak sanggup membayangkan kehidupan seperti apa yang menyongsongku nanti. Seusai satu episode di malam tak berbintang itu, tak dapat lagi kuyakinkan diriku, bahwa ia hanya akan menjadi masa lalu. Jejaknya membuat diriku tak akan pernah sama. Kuraba hatiku, nyeri…


-end-
170708
Inspired by Mars
From NR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar