Hari ini hari ke-3 aku berada di kampung halamanku. mungkin tak banyak berubah hanya di ada sedikit polesan pada kotannya, hanya saja, yang sangat berubah adalah mnusia-manusia yang ada di dalamnya. pergaulannya sudah semakin meluas, anak-anak sudah seperti orang dewasa, berpakaian yang mungkin sudah mereka sebut sudah biasa. cewek merokok sudah bukan hal yang tabu, berpacaran diusia muda, bahkan masih smp.
Ngomongen pacaran,,,
kadang aku binggung gimana berpacaran itu ? ku liat orang berpacaran seperti halnya suami istri, berpelukan, berciuman, bahkan ada yang lebih dari itu.
kembali kecerita tadi,,,
Yah berhubung aku pulang ke kampung halamanku, aku sering berkumpul-kumpul ma teman-teman ku, nongkrong bareng lah....selagi masih bisa berkumpul
hehehehehe,,,13x
Berkenaan hari ini masih bulan ramadhan, jadi kami mengadakan buka puasa bersama. Kami buka di sebuah rumah makan yang kalo ku pikir kurang unik dan sedikit ga nyaman lah,,,(ga usah di deskripsikan ya ?). kami kumpul, ngobrol dengan tawa canda dan kemudian makan bareng.
Makanpun telah selesai dan kemudian saatnya menentukan tempat tongkrongan mana yang akan didatangin. Yah hitung-hitung mencari-cari suasana yang enak dan santay.
akhirnya kita sepakat nongkrong di sebuah Kafe biasa yang namanya kearab-araban gitu deh,,,
Kami mulai meluncur kesana, dan setibanya disana ku lias ada beberapa kumpulan gadis-gadis yang ku pikir mereka masih anak-anak smp atau sma. dia menatap pada kami bertiga. setelah ku liat mereka sedang asyik menikmati rokok dan syisa dan menceletuk di bibirnya, "ah kegeeran laki-lakinya".
Aku langsung sensitif mendengar kata-kata itu, langsung setelah itu aku cuek dan tak melirik bahkan melihat pada mereka.
Pelayanpun datang dan kami bertiga memesan minuman. Merasa suana tempat duduk diluar kurang enak dan agak bising denan bunyi gemuruh suara kendaraan yang melintas di sana. Akhirnya kami memutuskan untuk pindah tempat duduk ke dalam ke tempat yang bisa santay dan lesehan.
Kami memulai pembicaraan yang mungkin tidak beraturan dengan tema berganti-ganti. tetapi ga tau kenapa, aku rada-rada sedikit ga nyambung dan oon gitu. Wah aku diketawaen temenku tapi baguslah mereka ketawa kan jadi terlihat lebih asyik dan lucu gitu,,,(wah aku jadi ke PD an)
Lama ngobrol dengan 2 gelas minuman yang sudah berganti dan kentang goreng yang sekejab habis karena saking banyaknya,,,(kebalikannya maksudnya). Kemudian dengan Syisa yang cepat habis baranya dan kurang mantap rasanya. (wah terlalu banyak comment aku) hehehehe,,,13x
Suasana sudah mulai berubah karena perut yang laper, dan kami pun memutuskan untuk meluncur ke tempat lain untuk makan.
sesampai di sana, tempatnya sepi, temanku mau berniat pindah ke lain tetapi karena sudah sampai dan keburu parkir, jadi kami lanjutkan perjuangan untuk mengisi perut yang mulai berteriah-teriak.
Kami pesan nasi goreng istimewa dengan minuman yang berbeda tapinya. sambil makan temenku bercerita tentang sebuatu, yah bisa dibilang menggosp gitu,,,tapi ga separah para cewek menggosipnya,,,,,he,,,13x.
Makan selesai dan kami segera untuk pulang ke rumah masing-masing.
He,,,,13x.
Seginilah ceritaku hari ne,,,,
my friends are Manr and Magh
-End-
15-09-2009
Mars
Selasa, 15 September 2009
Gubuk Kecilku
Gubuk Kecilku
Awan-awan bergerak seperti sedang bermain
Angin berhembus seperti mengelitiki tubuh
Suara kicauan burung seraya nyanyian yang merdu
Udara pagi nan sejuk
Tetes demi tetes embun berjatuhan dari daun
Daun yang basah dengan wangi semerbak
Dan eloknya alam yang terpampang luas
Sungguh agung anugerah ini
Pagi itu, ku mulai awal baru dalam kehidupan ku
Ku bangun dan ku liat ada serorang wanita cantik berbaring di sampingku
Wajahnya begitu mempesona, hanya tatapan mesra dan sebuah ciuman yang dapat menyampaikan rasa itu padanya. Diapun terbangun dari tidurnya seperti seorang putri salju. Betapa damainya ku melihat keindahan dalam dirinya, Kemudian aku memeluknya dengan saling tersenyum.
Kami berdua berjalan menuju beranda gubukku nan kecil tapi bertaburan jutaan harapan dan impian disana. Kami berdiri sambil meresapi udara dingin yang perlahan mengelitiki tubuh. Ku genggam erat tangan halus dan lembut itu sambil kulepaskan sebuah senyuman padanya. Dia pun membalas senyumku dengan senyuman yang semakin membuatku hanyat akan pesonanya.
Tak banyak kata yang terucap dari ku dan dia. Di gubuk itu aku mulai menjalani kehidupan baruku. Aku hanya tinggal berdua dengan seorang wanita yang selalu ada untukku, istriku tercinta. Semangat baru telah ku dapatkan, hari-hari terasa begitu indah walaupun sejuta hamparan kerikil mengganggu jalanku. Tapi aku tak pernah goyah karena dia yang selalu mendampingiku.
Semakin hari semakin membuatku kuat untuk melangkah dalam hidup tak ada yang bisa membuatku goyah. Sampai pada suatu ketika setelah sekian lama kami bersama, harapan itu akan tiba. Rumah gubuk kecil akan berubah jadi istana karena akan kedatangan seseorang yang dianugerahkan untuk melengkapi kebahagiaan kami berdua. Istriku tengah menjalani kehamilannya satu bulan. Aku semakin gigih, bersemangat, dan begitu bahagia seakan-akan bertambah jutaan kali lipat.
Seiring berjalannya waktu yang terasa begitu cepat, kehamilan istriku sudah delapan bulan, semakin dekat waktuku bertemu dengan makhluk kecil, merah, suci, dan penghias gubuk kecilku.
Pada hari itu, istriku mulai merasakan sesuatu yang aneh, perutnya terasa sakit, air ketubanpun pecah dan menetes dikakinya. Aku panik, binggung, dan segeralah ku bawa istriku ke rumah sakit. Jarak rumah sakit dengan gubukku cukup jauh 45 km. ku tancap gas kendaraanku agar cepat sampai di rumah sakit. Walau merasakan sakit tetapi istriku tetap tenang dan tersenyum padaku.
Jarak yang jauh membuatku sampai di rumah sakit 30 menit. Istriku mulai pucat, dan langsung ku bawa dia menuju ruang gawat darurat. Dokterpun segera datang dan langsung melalukan tindakan, kondisinya semakin parah, istriku pingsan sambil menggenggam tanganku. Dokterpun menyarankan untuk segera dilakukan operasi, tanpa pikir panjang aku menyetujuinya agar istri dan anakku dapat selamat. Operasipun dilakukan, aku tetap berada disampingnya setia mendampingi, walaupun dengan rasa gelisah dan khawatir. Selang beberapa menit waktu, seorang bayi mungil perempuan keluar dan menangis. Betapa gembirannya aku kala melihat wajahnya dan mendengarkan tangisannya. Tetapi keadaan istriku semakin parah, dia tak kuat dan akupun bisa merasaan betapa beratnya berjuang saat itu. Tapi Tuhan berkehendak lain, saat anakku lahir, istriku meninggal, dia meninggalkan aku dari dunia. Aku terpukul, diam, dan mataku pun meneteskan air mata. Inilah cobaan terberat dalam hidupku. Aku tak kuasa menahan kesedihan yang begitu dalam, seakan akan aku seperti terjatuh setelah terbang tinggi. Bayi mungil itu terus menangis, ku gendong dia dengan penuh kasih sayang dan ku rebahkan dia disamping ibunya yang sudah tak bernapas lagi.
“Sungguh malang nasibmu putri kecilku, kau ditinggalkan ibumu saat kau dilahirkan. Takkan pernah ku sia-siakan engkau dan akan kurawat engkau dengan penuh kasih sayang seperti yang telah aku impikan besama ibumu. Kau pasti akan tumbuh menjadi gadis tegar anakku. Kini hanya engkau pelita hidupku, cahaya penerang gubuk kecil ini”.
-end-
15-09-2009
Mars
Awan-awan bergerak seperti sedang bermain
Angin berhembus seperti mengelitiki tubuh
Suara kicauan burung seraya nyanyian yang merdu
Udara pagi nan sejuk
Tetes demi tetes embun berjatuhan dari daun
Daun yang basah dengan wangi semerbak
Dan eloknya alam yang terpampang luas
Sungguh agung anugerah ini
Pagi itu, ku mulai awal baru dalam kehidupan ku
Ku bangun dan ku liat ada serorang wanita cantik berbaring di sampingku
Wajahnya begitu mempesona, hanya tatapan mesra dan sebuah ciuman yang dapat menyampaikan rasa itu padanya. Diapun terbangun dari tidurnya seperti seorang putri salju. Betapa damainya ku melihat keindahan dalam dirinya, Kemudian aku memeluknya dengan saling tersenyum.
Kami berdua berjalan menuju beranda gubukku nan kecil tapi bertaburan jutaan harapan dan impian disana. Kami berdiri sambil meresapi udara dingin yang perlahan mengelitiki tubuh. Ku genggam erat tangan halus dan lembut itu sambil kulepaskan sebuah senyuman padanya. Dia pun membalas senyumku dengan senyuman yang semakin membuatku hanyat akan pesonanya.
Tak banyak kata yang terucap dari ku dan dia. Di gubuk itu aku mulai menjalani kehidupan baruku. Aku hanya tinggal berdua dengan seorang wanita yang selalu ada untukku, istriku tercinta. Semangat baru telah ku dapatkan, hari-hari terasa begitu indah walaupun sejuta hamparan kerikil mengganggu jalanku. Tapi aku tak pernah goyah karena dia yang selalu mendampingiku.
Semakin hari semakin membuatku kuat untuk melangkah dalam hidup tak ada yang bisa membuatku goyah. Sampai pada suatu ketika setelah sekian lama kami bersama, harapan itu akan tiba. Rumah gubuk kecil akan berubah jadi istana karena akan kedatangan seseorang yang dianugerahkan untuk melengkapi kebahagiaan kami berdua. Istriku tengah menjalani kehamilannya satu bulan. Aku semakin gigih, bersemangat, dan begitu bahagia seakan-akan bertambah jutaan kali lipat.
Seiring berjalannya waktu yang terasa begitu cepat, kehamilan istriku sudah delapan bulan, semakin dekat waktuku bertemu dengan makhluk kecil, merah, suci, dan penghias gubuk kecilku.
Pada hari itu, istriku mulai merasakan sesuatu yang aneh, perutnya terasa sakit, air ketubanpun pecah dan menetes dikakinya. Aku panik, binggung, dan segeralah ku bawa istriku ke rumah sakit. Jarak rumah sakit dengan gubukku cukup jauh 45 km. ku tancap gas kendaraanku agar cepat sampai di rumah sakit. Walau merasakan sakit tetapi istriku tetap tenang dan tersenyum padaku.
Jarak yang jauh membuatku sampai di rumah sakit 30 menit. Istriku mulai pucat, dan langsung ku bawa dia menuju ruang gawat darurat. Dokterpun segera datang dan langsung melalukan tindakan, kondisinya semakin parah, istriku pingsan sambil menggenggam tanganku. Dokterpun menyarankan untuk segera dilakukan operasi, tanpa pikir panjang aku menyetujuinya agar istri dan anakku dapat selamat. Operasipun dilakukan, aku tetap berada disampingnya setia mendampingi, walaupun dengan rasa gelisah dan khawatir. Selang beberapa menit waktu, seorang bayi mungil perempuan keluar dan menangis. Betapa gembirannya aku kala melihat wajahnya dan mendengarkan tangisannya. Tetapi keadaan istriku semakin parah, dia tak kuat dan akupun bisa merasaan betapa beratnya berjuang saat itu. Tapi Tuhan berkehendak lain, saat anakku lahir, istriku meninggal, dia meninggalkan aku dari dunia. Aku terpukul, diam, dan mataku pun meneteskan air mata. Inilah cobaan terberat dalam hidupku. Aku tak kuasa menahan kesedihan yang begitu dalam, seakan akan aku seperti terjatuh setelah terbang tinggi. Bayi mungil itu terus menangis, ku gendong dia dengan penuh kasih sayang dan ku rebahkan dia disamping ibunya yang sudah tak bernapas lagi.
“Sungguh malang nasibmu putri kecilku, kau ditinggalkan ibumu saat kau dilahirkan. Takkan pernah ku sia-siakan engkau dan akan kurawat engkau dengan penuh kasih sayang seperti yang telah aku impikan besama ibumu. Kau pasti akan tumbuh menjadi gadis tegar anakku. Kini hanya engkau pelita hidupku, cahaya penerang gubuk kecil ini”.
-end-
15-09-2009
Mars
Minggu, 13 September 2009
Waktu ?
Apa mungkin waktu yang menbawa perubahan ?
Tapi waktu tak bisa merubah segalanya
Seperti halnya engkau
Dahulu kau bersamaku
Tapi kini kau jauh
Menjadi milik orang lain
Tuhan pasti tahu seperti apa jalannya
Mungkin aku tau, ku tak bisa memilikimu
Tapi rasa itu pernah tumbuh di hatimu, di hatiku
Dan akan tetap ada walau tak bisa bergerak pada ku
Dan mungkin akan pudar padamu
Tapi ku patut bersyukur karena kau pernah hadir dalam kehidupanku
Tapi waktu tak bisa merubah segalanya
Seperti halnya engkau
Dahulu kau bersamaku
Tapi kini kau jauh
Menjadi milik orang lain
Tuhan pasti tahu seperti apa jalannya
Mungkin aku tau, ku tak bisa memilikimu
Tapi rasa itu pernah tumbuh di hatimu, di hatiku
Dan akan tetap ada walau tak bisa bergerak pada ku
Dan mungkin akan pudar padamu
Tapi ku patut bersyukur karena kau pernah hadir dalam kehidupanku
Kisah Ku Hari Itu
Kadang hidup ini membingungkan....
Ini hari kedua masuk kuliah, semua orang semakin banyak berkeliaran. semua punya tujuan masing-masing, kuliah, kumpul-kumpul bermain, bahkan ada yang berpacaran hari mencuru waktu untuk bisa tetap bersama walaupun hari itu bulan ramadhan, tidak menghalangi mereka untuk bertemu.
Panas semakin menyengat ke ubun-ubun
Dahaga dan lelahpun semakin menyerang
Yah,,,,inilah namanya cobaan...
Sorepun telah datang seakan menghampiriku,,
udara yang panas nan menyengat perlahan-lahan mulai memudar dan menjadi dingin
semakin dingin seakan-akan menjalar menggelitiki tulang rusukku...
Riuh piuh kota Malang
Jalan semakin sibuk dengan bunyian kendaraan yang lewat
dengung nada klaksonpun bering berserangan seperti saling tembak menembak
Teriakan, panggilan, bahkan senyuman begitu banyak seraya kendaraan yang lewat
Banyak orang berjualan dengan penuh harapan
Mengais rejeki untuk dapat menghidupi keluaga
Hidup kadang terasa berat
Dan kadang juga terasa sangat nikmat
Tapi juga kadang-kadang membingungkan
Dan ketika kau mempunyai tujuan
Dan menentukan tujuanmu
Maka kau dan takdirmu akan berjalan berdampingan
Dan ketika kau gagal
Kau pun akan mengetahuinya
Apa yang hendak di sampaikan-Nya padamu
Karena kehidupan seperti sebuah jalan yang kadang mulus, lurus, dan kadang juga penuh dengan kerikir berlubak, atau kadang penuh dengan persimpangan,,,,
08-09-2009
Malang
Mars
Ini hari kedua masuk kuliah, semua orang semakin banyak berkeliaran. semua punya tujuan masing-masing, kuliah, kumpul-kumpul bermain, bahkan ada yang berpacaran hari mencuru waktu untuk bisa tetap bersama walaupun hari itu bulan ramadhan, tidak menghalangi mereka untuk bertemu.
Panas semakin menyengat ke ubun-ubun
Dahaga dan lelahpun semakin menyerang
Yah,,,,inilah namanya cobaan...
Sorepun telah datang seakan menghampiriku,,
udara yang panas nan menyengat perlahan-lahan mulai memudar dan menjadi dingin
semakin dingin seakan-akan menjalar menggelitiki tulang rusukku...
Riuh piuh kota Malang
Jalan semakin sibuk dengan bunyian kendaraan yang lewat
dengung nada klaksonpun bering berserangan seperti saling tembak menembak
Teriakan, panggilan, bahkan senyuman begitu banyak seraya kendaraan yang lewat
Banyak orang berjualan dengan penuh harapan
Mengais rejeki untuk dapat menghidupi keluaga
Hidup kadang terasa berat
Dan kadang juga terasa sangat nikmat
Tapi juga kadang-kadang membingungkan
Dan ketika kau mempunyai tujuan
Dan menentukan tujuanmu
Maka kau dan takdirmu akan berjalan berdampingan
Dan ketika kau gagal
Kau pun akan mengetahuinya
Apa yang hendak di sampaikan-Nya padamu
Karena kehidupan seperti sebuah jalan yang kadang mulus, lurus, dan kadang juga penuh dengan kerikir berlubak, atau kadang penuh dengan persimpangan,,,,
08-09-2009
Malang
Mars
Selasa, 01 September 2009
My Feeling
Watu terus berlalu
Yang dulu bukan lagi yang dulu
Banyak perubahan terjadi
Kini pesonamu pun telah ku sadari
Pesona itu masuk di jiwaku
Hingga sejuta harapan menghampiriku
Harapan untuk bersamamu
Bayanganmu hadir di mimpiku
Harummu terus mengelilingiku
Genggaman tanganmu seakan terus mendekapku
Tubuhku terasa hangat olehmu
Oleh pesona dan cintamu
Rasa itu terus bergejolak
Getarannya membuat jantungku berlari kencang
Hingga hembusan nafasku seakan-akan berkata
" I Love You"
-end-
02 Maret 2009
Inpired by R.A.A
From Mars
Yang dulu bukan lagi yang dulu
Banyak perubahan terjadi
Kini pesonamu pun telah ku sadari
Pesona itu masuk di jiwaku
Hingga sejuta harapan menghampiriku
Harapan untuk bersamamu
Bayanganmu hadir di mimpiku
Harummu terus mengelilingiku
Genggaman tanganmu seakan terus mendekapku
Tubuhku terasa hangat olehmu
Oleh pesona dan cintamu
Rasa itu terus bergejolak
Getarannya membuat jantungku berlari kencang
Hingga hembusan nafasku seakan-akan berkata
" I Love You"
-end-
02 Maret 2009
Inpired by R.A.A
From Mars
LAYANG- LAYANGMU
LAYANG- LAYANGMU
Seandainya saja aku tahu lebih awal
Perbedaan antara menggandeng tangan
Dan membelenggu jiwa
Aku dapat katakan padamu
Bahwa keterikatan bukanlah bencana
Dan hubungan bukan kontrak mati
Biarkan aku jadi layang-layangmu
Terbangkan aku tapi jangan lepaskan
Nanti aku terjatuh tak tahu arah
Biarkan aku terbang
Ulurlah aku tapi jangan terlalu tinggi
Nanti angin menghembuskan aku
Biarkan aku melayang
Tariklah aku sekali-kali
Agar aku tetap dapat kendalikan diri
Jadilah partner untukku
Bukan pendikteku
Jadilah pahlawanku
Aku tak akan pergi darimu
-end-
17 Juli 2008
Inspired by Sophie
From NR
Seandainya saja aku tahu lebih awal
Perbedaan antara menggandeng tangan
Dan membelenggu jiwa
Aku dapat katakan padamu
Bahwa keterikatan bukanlah bencana
Dan hubungan bukan kontrak mati
Biarkan aku jadi layang-layangmu
Terbangkan aku tapi jangan lepaskan
Nanti aku terjatuh tak tahu arah
Biarkan aku terbang
Ulurlah aku tapi jangan terlalu tinggi
Nanti angin menghembuskan aku
Biarkan aku melayang
Tariklah aku sekali-kali
Agar aku tetap dapat kendalikan diri
Jadilah partner untukku
Bukan pendikteku
Jadilah pahlawanku
Aku tak akan pergi darimu
-end-
17 Juli 2008
Inspired by Sophie
From NR
Ketika Pilihan Hanya Menjadi Harapan yang Kosong
Ketika Pilihan Hanya Menjadi Harapan yang Kosong
Perjalanan hidup ini begitu sulit ditebak
Kita hanya bisa berjalan seperti adanya
Berjalan untuk mencapai tujuan
Langkah demi langkah dilalui
Waktupun terus berganti
Jalan ini masih panjang
Banyak simpangan telah dilalui
Satu demi satu t’lah ku pilih
Untuk sampai pada tujuan ku
Jalan yang panjang ini masih belum berhujung
Kakipun t’rus melangkah
Dan kembali menemui simpangan kehidupan
Dan mengharuskan untuk memilih
Pilihan yang begitu sulit
Ku pun terdiam dalam kebingungan
Aku mulai memutuskan pilihan
Aku mulai tersenyum
Hidup ku mulai berubah
Memutar haluan tujuan ku
Tapi takdir berkehendak lain
Ketika waktu menghentikan ku
Menghentikan langkah yang t’lah ku pilih
Aku t’rus berpikir
Bagaimana ku dapat melangkah ?
Haruskah ku kembali kepersimpangan
Dan melanjutkan tujuan awal ku
Aku tak bisa melawan takdir
Kehidupan ku sudah di tentukan
Kehidupannya pun sudah dipilih
Semua terlewati begitu cepat
Semua yang begitu berkesan
Kini hanya bisa jadi kenangan hidup ku
Dan harapan dalam hati ku
Ketika itu sebuah pilihan hanya menjadi harapan yang kosong
-end-
19 Juli 2008
From NR
Perjalanan hidup ini begitu sulit ditebak
Kita hanya bisa berjalan seperti adanya
Berjalan untuk mencapai tujuan
Langkah demi langkah dilalui
Waktupun terus berganti
Jalan ini masih panjang
Banyak simpangan telah dilalui
Satu demi satu t’lah ku pilih
Untuk sampai pada tujuan ku
Jalan yang panjang ini masih belum berhujung
Kakipun t’rus melangkah
Dan kembali menemui simpangan kehidupan
Dan mengharuskan untuk memilih
Pilihan yang begitu sulit
Ku pun terdiam dalam kebingungan
Aku mulai memutuskan pilihan
Aku mulai tersenyum
Hidup ku mulai berubah
Memutar haluan tujuan ku
Tapi takdir berkehendak lain
Ketika waktu menghentikan ku
Menghentikan langkah yang t’lah ku pilih
Aku t’rus berpikir
Bagaimana ku dapat melangkah ?
Haruskah ku kembali kepersimpangan
Dan melanjutkan tujuan awal ku
Aku tak bisa melawan takdir
Kehidupan ku sudah di tentukan
Kehidupannya pun sudah dipilih
Semua terlewati begitu cepat
Semua yang begitu berkesan
Kini hanya bisa jadi kenangan hidup ku
Dan harapan dalam hati ku
Ketika itu sebuah pilihan hanya menjadi harapan yang kosong
-end-
19 Juli 2008
From NR
Episode di Malam Tak Berbintang
Episode di Malam Tak Berbintang
Ia memasuki kehidupanku seperti angin sepoi menggelitik pipi. Begitu membuaiku. Ia datang dengan membawa serta pesonanya yang tak dapat kutolak. Bahkan sebelum dimulainya episode di malam tak berbintang itu, aku tahu bahwa ia sosok yang istimewa. Ia lelaki yang menyenangkan. Ia selalu penuh perhatian dan hangat. Kedewasaan berfikirnya senantiasa membuat setiap orang merasa penting. Kemampuannya berbincang seolah membiusku dalam kekaguman tanpa tepi. Dan yang terpenting, ia selalu tersenyum! Namun ketika itu aku tak tahu bahwa takdir ternyata sedang mengajakku bercanda. Hingga satu episode di malam tak berbintang membuat diriku tak akan pernah sama lagi.
Sedari awal aku tahu jika ia dan keberadaannya hanya akan menjadi masa lalu. Masa depanku telah ditentukan. Masa depannya telah dipilih. Namun dorongan insting liar dalam diriku tak dapat kutipu. Aku jatuh, terperosok jauh pada sesuatu yang tak mungkin kugenggam.
Langit mendung, bulan redup. Aku menengadah.
“Kenapa nggak ada bintang ya?” tanyanya di suatu malam yang berkabut.
“Ini kan sedang mendung,” jawabku sambil menelisik ke dalam matanya yang bercahaya. “Tahu nggak kenapa langit warnanya biru?” tambahku.
Ia menggeleng
“Itu karena atmosfer kita berdebu. Debu memendarkan cahaya matahari. Makanya langit kita warnanya biru.”
“Kalau luar angkasa?”
“Di luar angkasa nggak ada atmosfer dan nggak ada debu. Jadi meski ada sinar matahari, warnanya nggak biru,”
“Oh, tadinya kupikir karena astronot motretnya malam hari,” ungkapnya sambil tertawa menebar- nebar.
Aku ikut tertawa bersamanya. Celetukannya selalu lucu. Tadinya aku menganggap dia sebagai adik kecilku. Tapi setelah sekian lama ternyata akulah yang harus belajar banyak tentang kedewasaan padanya. Ia mengajariku banyak hal. Tentang kehidupan, tentang optimisme, juga tentang cinta.
“Aku nggak nyangka kamu masih semester empat,” aku teringat akan perkataanku pada suatu sore di bukit bintang. Bukit kecil itu bukan bukit yang penuh bintang. Hanya saja kalau malam, bukit itu memendarkan ribuan lampu ke langit. Ribuan lampu dari rumah- rumah penduduk yang terlihat seperti bintang jika dipandang dari atas bukit.
“Emangnya kenapa? Apa ada pengaruhnya?” tanyanya sambil memandangiku yang terduduk layu di atas motornya. Angin bulan Juli yang dingin dan lembab menampar wajah kami.
“Nggak sih! Kalau dekat kamu, aku merasa akulah yang masih kecil,” ungkapku, mengingat rentang usianya yang empat tahun lebih muda dariku. Ia selalu membuatku merasa nyaman. Ia membuatku tak dapat berprasangka buruk tentang dirinya. Ia dan segala yang dipunyainya, menenggelamkanku.
“Usia kan nggak menjamin kedewasaan?” ujarnya sambil menerawang. Aku membenarkan ucapannya ketika itu.
Aku kembali menengadah memandangi malam yang tak berbintang. Dia meraih tanganku yang lembab dengan tangannya yang sejuk. Genggaman tangan kami longgar, dan kulihat cincin polos kecil melingkar di jari manisnya. Saat ia menyentuh tanganku, rasa dingin karena gugup menjalar ke seluruh tubuhku. Ketika ia menatap mataku, aku merasa sangat cantik. Kami saling memandang dalam sedetik yang singkat. Tanganku gemetar. Pastilah ia tahu aku gugup, karena ia tersenyum ketika aku mulai gemetar. Dan dalam beberapa detik yang singkat itu, tiba-tiba saja ia menyentuhkan bibirnya ke bibirku. Aku kaku… Segala sesuatunya menjadi kabur, kecuali dia. Yang terpikirkan saat itu hanyalah bahwa aku tidak sedang menginjak bumi. Nafasku memburu, seolah ribuan oksigen tak cukup untuk menyuplai paru-paruku yang bergetar hebat. Jantungku kekurangan darah. Otakku kekurangan akal sehat. Beberapa waktu kemudian, ia kembali mengulang saat yang sempurna itu.
Ketika akal sehatku kembali, dengan segera aku ingin menangis. Aku punya seseorang yang kunanti. Ia punya seseorang yang menantinya. Kami tidak saling memiliki. Kami terlibat hanya karena sama-sama tahu jika kami saling tertarik. Ia akan kembali pada kehidupannya yang sempurna, di luar pulauku. Dan aku kembali pada kehidupanku yang rumit, di dalam pulauku. Lamat- lamat aku seperti mendengar suara takdir menertawakanku.
Aku hanya tak sanggup melihatnya berlalu. Aku termasuk orang yang tak bisa menerima perpisahan di depan mata. Aku tak sanggup membayangkan kehidupan seperti apa yang menyongsongku nanti. Seusai satu episode di malam tak berbintang itu, tak dapat lagi kuyakinkan diriku, bahwa ia hanya akan menjadi masa lalu. Jejaknya membuat diriku tak akan pernah sama. Kuraba hatiku, nyeri…
-end-
170708
Inspired by Mars
From NR
Ia memasuki kehidupanku seperti angin sepoi menggelitik pipi. Begitu membuaiku. Ia datang dengan membawa serta pesonanya yang tak dapat kutolak. Bahkan sebelum dimulainya episode di malam tak berbintang itu, aku tahu bahwa ia sosok yang istimewa. Ia lelaki yang menyenangkan. Ia selalu penuh perhatian dan hangat. Kedewasaan berfikirnya senantiasa membuat setiap orang merasa penting. Kemampuannya berbincang seolah membiusku dalam kekaguman tanpa tepi. Dan yang terpenting, ia selalu tersenyum! Namun ketika itu aku tak tahu bahwa takdir ternyata sedang mengajakku bercanda. Hingga satu episode di malam tak berbintang membuat diriku tak akan pernah sama lagi.
Sedari awal aku tahu jika ia dan keberadaannya hanya akan menjadi masa lalu. Masa depanku telah ditentukan. Masa depannya telah dipilih. Namun dorongan insting liar dalam diriku tak dapat kutipu. Aku jatuh, terperosok jauh pada sesuatu yang tak mungkin kugenggam.
Langit mendung, bulan redup. Aku menengadah.
“Kenapa nggak ada bintang ya?” tanyanya di suatu malam yang berkabut.
“Ini kan sedang mendung,” jawabku sambil menelisik ke dalam matanya yang bercahaya. “Tahu nggak kenapa langit warnanya biru?” tambahku.
Ia menggeleng
“Itu karena atmosfer kita berdebu. Debu memendarkan cahaya matahari. Makanya langit kita warnanya biru.”
“Kalau luar angkasa?”
“Di luar angkasa nggak ada atmosfer dan nggak ada debu. Jadi meski ada sinar matahari, warnanya nggak biru,”
“Oh, tadinya kupikir karena astronot motretnya malam hari,” ungkapnya sambil tertawa menebar- nebar.
Aku ikut tertawa bersamanya. Celetukannya selalu lucu. Tadinya aku menganggap dia sebagai adik kecilku. Tapi setelah sekian lama ternyata akulah yang harus belajar banyak tentang kedewasaan padanya. Ia mengajariku banyak hal. Tentang kehidupan, tentang optimisme, juga tentang cinta.
“Aku nggak nyangka kamu masih semester empat,” aku teringat akan perkataanku pada suatu sore di bukit bintang. Bukit kecil itu bukan bukit yang penuh bintang. Hanya saja kalau malam, bukit itu memendarkan ribuan lampu ke langit. Ribuan lampu dari rumah- rumah penduduk yang terlihat seperti bintang jika dipandang dari atas bukit.
“Emangnya kenapa? Apa ada pengaruhnya?” tanyanya sambil memandangiku yang terduduk layu di atas motornya. Angin bulan Juli yang dingin dan lembab menampar wajah kami.
“Nggak sih! Kalau dekat kamu, aku merasa akulah yang masih kecil,” ungkapku, mengingat rentang usianya yang empat tahun lebih muda dariku. Ia selalu membuatku merasa nyaman. Ia membuatku tak dapat berprasangka buruk tentang dirinya. Ia dan segala yang dipunyainya, menenggelamkanku.
“Usia kan nggak menjamin kedewasaan?” ujarnya sambil menerawang. Aku membenarkan ucapannya ketika itu.
Aku kembali menengadah memandangi malam yang tak berbintang. Dia meraih tanganku yang lembab dengan tangannya yang sejuk. Genggaman tangan kami longgar, dan kulihat cincin polos kecil melingkar di jari manisnya. Saat ia menyentuh tanganku, rasa dingin karena gugup menjalar ke seluruh tubuhku. Ketika ia menatap mataku, aku merasa sangat cantik. Kami saling memandang dalam sedetik yang singkat. Tanganku gemetar. Pastilah ia tahu aku gugup, karena ia tersenyum ketika aku mulai gemetar. Dan dalam beberapa detik yang singkat itu, tiba-tiba saja ia menyentuhkan bibirnya ke bibirku. Aku kaku… Segala sesuatunya menjadi kabur, kecuali dia. Yang terpikirkan saat itu hanyalah bahwa aku tidak sedang menginjak bumi. Nafasku memburu, seolah ribuan oksigen tak cukup untuk menyuplai paru-paruku yang bergetar hebat. Jantungku kekurangan darah. Otakku kekurangan akal sehat. Beberapa waktu kemudian, ia kembali mengulang saat yang sempurna itu.
Ketika akal sehatku kembali, dengan segera aku ingin menangis. Aku punya seseorang yang kunanti. Ia punya seseorang yang menantinya. Kami tidak saling memiliki. Kami terlibat hanya karena sama-sama tahu jika kami saling tertarik. Ia akan kembali pada kehidupannya yang sempurna, di luar pulauku. Dan aku kembali pada kehidupanku yang rumit, di dalam pulauku. Lamat- lamat aku seperti mendengar suara takdir menertawakanku.
Aku hanya tak sanggup melihatnya berlalu. Aku termasuk orang yang tak bisa menerima perpisahan di depan mata. Aku tak sanggup membayangkan kehidupan seperti apa yang menyongsongku nanti. Seusai satu episode di malam tak berbintang itu, tak dapat lagi kuyakinkan diriku, bahwa ia hanya akan menjadi masa lalu. Jejaknya membuat diriku tak akan pernah sama. Kuraba hatiku, nyeri…
-end-
170708
Inspired by Mars
From NR
Langganan:
Postingan (Atom)

